Perkembangan layanan seluler generasi ketiga atau 3G dinilai meleset dari harapan pemerintah.
Dalam perkembangannya, fitur-fitur yang terdapat dalam layanan 3G ternyata tidak dimanfaatkan semaksimal mungkin oleh pengguna. Anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi mengatakan, beberapa fitur yang ada dalam layanan 3G, seperti video calldan mobile TV, tidak banyak digunakan.
”Mereka lebih banyak menggunakan layanan 3G untuk mengakses data atau internet,” ujarnya saat ditemui sebelum rapat dengan Menkominfo di Jakarta kemarin. Padahal, lanjut Heru, harapan awal pemerintah saat menerbitkan lisensi ini adalah agar layanan-layanan seperti video callatau mobile TV bisa diakses secara optimal.
Menurut dia, belum variatifnya pengembangan layanan content yang bisa menggunakan jaringan 3G menjadi salah satu alasan mandeknya perkembangan 3G. ”Selain juga karena pola masyarakat kita yang masih lebih senang mengakses internet,” tambah dia.
Saat ini terdapat lima operator penyelenggara jaringan 3G, yakni PT Hutchinson Telecomunication, PT Telekomunikasi Seluler (Telkomsel), PT Excelcomindo Pratama Tbk (XL), PT Indosat Tbk (Indosat), dan PT Natrindo Telepon Seluler (NTS). BRTI sekarang tengah mengevaluasi kinerja dan komitmen seluruh operator 3G tersebut.
Evaluasi mengacu pada ketentuan Peraturan Menteri No 7/2006 tentang penggunaan frekuensi radio 2,1 Gigaheartz (Ghz) bahwa penyelenggaraan jasa jaringan bergerak seluler harus dievaluasi. Heru menjelaskan, sesuai ketentuan tersebut, pada tahun pertama operator harus menjangkau dua provinsi dengan penetrasi sekitar 10%.
Pada tahun kedua harus menjangkau lima provinsi dengan penetrasi 20%. Tahun ketiga menjangkau delapan provinsi dengan penetrasi 20%. Tahun keempat di 10 provinsi dengan penetrasi 30% dan tahun kelima menjangkau 12 provinsi dengan penetrasi 30%.
”Saat ini data dari seluruh operator sudah masuk dan sekarang sedang direkapitulasi,” kata dia. Sementara itu, Direktur Komersial XL Joy Wahyudi sepaham bahwa penggunaan fitur 3G terpengaruh oleh kebiasaan masyarakat. ”Saat ini pengguna lebih senang pada layanan voice (suara), SMS (pesan pendek), dan internet,” terang dia.
Kemudian, ujar Joy, pada layanan-layanan yang sifatnya tren, seperti video call, frekuensi penggunaannya hanya tinggi pada masa-masa awal peluncuran. Tetapi, semakin lama, konsumen kembali lagi pada kebiasaannya menelepon secara biasa.
Di sisi lain, dia menyoroti, relatif tingginya harga jual telepon seluler (ponsel) yang mampu mengadaptasi layanan 3G menjadi hambatan tersendiri bagi perkembangan 3G. ”Saat ini kalau tidak salah handset (ponsel) 3G yang termurah seharga Rp1,5 juta,” imbuhnya.
Sementara Group Head Brand Marketing Indosat Teguh Prasetya Indosat optimistis pertumbuhan pengguna 3G meningkat signifikan tahun ini. Dia menargetkan pertumbuhan sampai 100% menjadi sekitar 1,5 juta orang.
”Kita optimistis target itu tercapai karena tren ponsel 3G ke depan semakin terjangkau,” tutur Teguh. Sampai akhir 2007, pelanggan aktif 3G Indosat mencapai 700.000 orang dari total yang teregistrasi sebanyak 1,3 juta orang. (meutia rahmi)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar