Makhluk Misterius Ditemukan di Antartika
ILMUWAN Australia yang meneliti kehidupan laut Antartika menemukan sejumlah makhluk misterius. Makhluk-makhluk tersebut antara lain laba-laba laut raksasa serta cacing raksasa yang hidup di dasar laut.
Makhluk-makhluk raksasa itu hidup pada kedalaman sekitar 3.000 meter di bawah permukaan air laut.Makhlukmakhluk itu menjadi besar akibat fenomena gigantisme. Namun, para ilmuwan belum mengetahui penyebab gigantisme.
“Gigantisme sangat umum di perairan Antartika. Kami telah mengumpulkan cacing laut, laba-laba laut, dan binatang-binatang bercangkang yang memiliki ukuran tubuh selebar nampan makanan,” ujar ilmuwan Australian Antarctic Division Martin Riddle,ketua tim ekspedisi.
Makhluk-makhluk yang ditemukan Riddle dan rekanrekan kini telah dikirimkan ke universitas-universitas dan museum-museum terbesar dunia untuk diidentifikasi dan diteliti. Sebab, tidak semua makhluk yang ditemukan tim Riddle dapat diidentifikasi. Ekspedisi ilmuwan Australia tersebut untuk memetakan bentuk-bentuk kehidupan Samudera Antartika.
Penelitian itu juga berupaya mengungkap pengaruh perubahan iklim terhadap lingkungan hidup di bawah permukaan laut. Australia bekerja sama dengan Prancis dan Jepang dalam ekspedisi tersebut. Australia mengerahkan kapal Aurora Australis, Prancis mengerahkan kapal L’Astrolabe, dan Jepang mengerahkan kapal Umitaka Maru. (AP/ahmad fauzi)
Katak Purba Berbobot 4,5 Kg
AHLI paleontologi Stony Brook University,New York, David Krause menemukan fosil katak purba berukuran raksasa. Karena memiliki ukuran tubuh sangat besar, untuk ukuran katak, makhluk purba itu diberi nama beelzebufo atau katak iblis.
Krause menemukan fosil tulang katak berusia 70 juta tahun itu di Madagaskar,lepas pantai Afrika. Krause memperkirakan, beelzebufodewasa ketika masih hidup memiliki bobot sekitar 4,5 kg dengan panjang sekitar 41 cm. Ukuran tubuh beelzebufo membuat para ilmuwan takjub. Sebab, katak terbesar yang hidup pada saat ini,yaitu katak Goliath, memiliki bobot maksimum “hanya” sekitar 3 kg. Katak Goliath hidup di Afrika Barat.
Namun, Krause menilai, beelzebufo bukan leluhur dari katak Goliath. Sebaliknya, beelzebufolebih mirip dengan katak yang masih hidup di wilayah Amerika Selatan. Krause heran mengapa beelzebufolebih mirip katak Amerika Selatan. Sebab, Madagaskar dan Amerika Selatan berjarak sangat jauh, sekitar separuh lingkar bumi.
Apabila beelzebufo benar-benar leluhur katak Amerika Selatan, maka katak Amerika Selatan tentu menempuh perjalanan migrasi sangat jauh dari “kampung” leluhur. “Masih banyak misteri yang melingkupi beelzebufo. Yang jelas, katak purba ini buas sekali karena sanggup memangsa bayi-bayi dinosaurus,” tandas Krause.
Di sekitar tempat penemuan fosil beelzebufo,Krause juga menemukan fosil dinosaurus dan buaya purba. Makhluk-makhluk tersebut saling memangsa pada puluhan juta tahun silam. Beelzebufo dewasa adalah santapan dinosaurus dan buaya purba dewasa. Sebab, beelzebufomemiliki tubuh paling kecil di antara “musuhmusuhnya.” Misalnya, buaya purba suchomimus yang memiliki tubuh sepanjang 12 meter.Fosil suchomimus pertama kali ditemukan pada 1997.
Namun begitu, beelzebufo diperkirakan sebagai makhluk yang cerdik.Beelzebufodewasa hidup dengan menculik dan menyantap anak-anak dinosaurus dan buaya purba. Seperti katak modern (yang masih hidup pada saat ini), beelzebufo memiliki mulut lebar sehingga bisa menyantap mangsa dengan sekali telan.
Berbeda dengan katak modern, beelzebufo memiliki rahang dan gigi jauh lebih kuat. Beelzebufo juga memiliki tulang tengkorak sangat tebal. Beelzebufo juga memiliki kulit lebih tebal dan kasar. Semua itu adalah sistem pertahanan beelzebufo.
Krause menegaskan, katak tidak bisa hidup di air laut.Karena itu,Krause memperkirakan beelzebufo bermigrasi ke Amerika Selatan dengan menyusuri lautan es yang membeku.Pada sekitar 70 juta tahun silam (periode cretaceous), sebagian besar daratan di permukaan bumi masih dihubungkan jembatanjembatan es.
Krause memperkirakan, keluarga beelzebufo berpindah ke Amerika Selatan melalui Antartika. Krause menilai, pada periode cretaceous, Antartika memiliki suhu lebih hangat daripada wilayah lain di permukaan bumi.
Dari Antartika, beelzebufo diperkirakan terus berpindah untuk mencari makanan dan menghindari predator (pemangsa). Hingga akhirnya beelzebufo menemukan rawa-rawa di Amerika Selatan, yang ideal bagi mereka, dan beelzebufo menetap dan berketurunan di sana. (AP/Rtr/ahmad fauzi)
Karet yang Memulih Sendiri
Karet biasa tidak mudah direkatkan kembali ketika putus. Potongan-potongan karet Prancis bisa menyatu kembali ketika ditempelkan beberapa menit.
SEKELOMPOK ahli kimia Prancis berhasil menciptakan karet yang bisa memulihkan diri sendiri ketika rusak. Terobosan tersebut diharapkan mampu mendorong penciptaan pakaian yang bisa memulih sendiri ketika robek, atau mainan yang bisa membetulkan diri sendiri ketika rusak.
“Bola yang dipotong menjadi dua bisa disatukan kembali hanya dengan menempelkan kedua potongan tersebut menjadi satu, jika bola tersebut dibuat dengan karet ini,” ujar ketua tim peneliti, Ludwik Leibler, ilmuwan Laboratorium Kimia dan Material Lunak, Pusat Riset Ilmiah Nasional Prancis (CNRS).
Tim peneliti mengungkapkan, karet tersebut terbuat dari campuran bahan-bahan sederhana.Yakni asam lemak (zat yang terdapat dalam minyak sayur) dan urea (zat dalam air kencing, yang bisa diproduksi secara sintetis). Molekul-molekul asam lemak dan urea tersebut kemudian dirangkai dan diperkuat dengan ikatan hidrogen.
Karena itu,material itu menjadi elastis,dapat ditarik memanjang hingga beberapa ratus persen dari panjang asli. Sifat elastis itu memang dimiliki karet biasa.Namun, karet biasa tidak mudah disatukan kembali ketika putus atau robek. Untuk menyatukan kembali karet biasa, karet harus dipanaskan lebih dulu.
Sebaliknya, karet Prancis ini tidak perlu dipanaskan untuk disatukan kembali ketika putus atau robek. Tim peneliti mengungkapkan, potongan-potongan karet istimewa ini dapat menyatu kembali ketika ditempelkan dengan erat selama sekitar 15 menit dalam lingkungan bersuhu delapan derajat Celsius.Karet Prancis ini bisa ditarik memanjang hingga lima kali lipat sebelum putus atau robek.
“Karet ini bisa disatukan kembali berulang-ulang setelah putus atau robek. Pemanfaatannya bisa sangat banyak. Karet ini bisa dijadikan bahan pakaian, mainan, bahkan pelapis dinding,” tutur Leibler. Tim ilmuwan CNRS itu bekerja sama dengan perusahaan Prancis Arkema untuk meneliti karet yang bisa memulihkan diri tersebut.Arkema akan memproduksi massal karet itu dalam waktu dekat.
Leibler memperkirakan, produk-produk pertama yang menggunakan material tersebut akan muncul dalam satu atau dua tahun mendatang. Ilmuwan yang lain menilai, karet karya ilmuwan Prancis tersebut tidak mengancam kelestarian lingkungan hidup.
“Karet tersebut menjadi semakin istimewa karena terbuat dari bahan ramah lingkungan dan mudah didaur ulang. Material pemulih diri sendiri ini juga mudah diproduksi massal dan cukup kuat,”ujar ilmuwan University of Tokyo Takuzo Aida. Kemajuan teknologi memungkinkan manusia menciptakan material yang belum pernah terbayang sebelumnya.
Tim ilmuwan Georgia Institute of Technology, AS, pada bulan ini memperkenalkan tekstil serat nano. Tekstil itu mampu membangkitkan energi dari gerakan manusia ketika dijadikan pakaian. Pakaian pembangkit listrik tersebut diharapkan mampu menyuplai energi alat-alat elektronik portabel seperti ponsel dan PMP (portable media player).
“Metode pembangkitan listrik ini disebut piezoelectric effect.Dua serat saling bergesekan dan mengubah gerakan mekanik menjadi energi listrik,”ujar Zhong Lin Wang, ketua tim peneliti. Di samping dijahit menjadi pakaian, tekstil pembangkit listrik tersebut bisa juga dijadikan tirai,tenda,bahkan layar untuk membangkitkan energi dari gerakan angin, getaran suara, atau energienergi mekanik yang lain.
Hingga kini, Wang dan rekan-rekan sudah berhasil membuat lebih dari 200 generator mikroskopik berskala nanometer untuk dipasang pada tekstil tersebut.Satu nanometer setara dengan satu per satu miliar meter.
Serat-serat nano tekstil Wang dibuat dari bahan seng oksida.Ini menjadi salah satu kelemahan teknologi tersebut. Seng oksida sangat sensitif terhadap air.Apabila tekstil seng oksida tersebut dijadikan pakaian,maka pakaian itu tidak boleh dicuci agar tidak rusak. (AP/AFP/Rtr/ahmad fauzi)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar